Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2014

Tutorial Nahwu (Video)

Belajar Nahwu dasar dengan video Tutorial Nahwu di Channel Youtube dari Lentera Ma'had Media Keilmuan Madrasah Diniyah Wahid Hasyim Yogyakarta. www.youtube.com/user/LenteraTV

Jadwal KBM Update 26 September

Jadwal KBM Update 7 Oktober



Download

Bid’ah

Pada awalnya gerakan pemurnian berdiri untuk merampingkan Islam yang sarat beban kesejarahan. Ia ingin membersihkan Islam dari beban historisnya, yaitu dengan cara mengembalikan umat Islam kepada induk ajarannya, Al-Quran dan Al-Sunnah. Seruan ini mestinya sangat positif bagi kerja perampingan dan pembersihan (purifikasi). Tapi ternyata tidaklah seindah yang dibayangkan. Di tangan sebagian umat Islam yang fanatik dan militan, implementasinya terjatuh pada tindakan kontra produktif. Di mana-mana mereka menyebarkan tuduhan bid'ah kepada umat Islam yang tidak seideologi dengan mereka. Bahkan, tidak jarang mereka mengkafirkan dan memusyrikkan umat Islam lain.Sejauh ini mereka cukup agresif mengkampanyekan pikiran-pikiran dan ideolognya. Bukan hanya memekikkan khotbah dari dalam mesjid-mesjid mewah di kota-kota besar, melainkan jugablusukanke pedalaman dan dusun-dusun di Indonesia. Ajaran-ajarannya dicicil untuk disampaikan kepada umat Islam Indonesia.
Dalam konteks Indonesia, ada beber…

Fi'il (الفعل)

Pembagian Fi’il Fi’il dibagi menjadi tiga bentuk, yaitu : Fi’il Mudlori’ (فعل المضارع), yaitu setiap lafadz yang menunjukkan pada suatu pekerjaan yang sedang berlangsung atau akan berlangsung. Contoh : زَيْدٌ يَأكُلُ الطَّعَامَ“Zaid sedang memakan makanan”.Fi’il Madli (فعل الماضى), yaitu setiap lafadz yang menunjukkan pada suatu pekerjaan yang telah lampau. Contoh :أَكَلَ زَيْدٌ الطَّعَامَ“Zaid sudah memakan makanan”.Fi’il Amr (فعل الأمر), yaitu setiap lafadz yang menunjukkan perintah pekerjaan. Contoh : كُلْ الطَّعَامَ“Makanlahmakanan itu”.

Seri Nahwu: I'rob

I’rob I'rob adalah perubahan setiap akhir dari kalimat/kata baik harokatnya maupun hurufnya dikarenakan'amil yang masuk kepadanya baik secara lafadz (lafdzi) atau dikira-kirakan (taqdiri). Contoh : جَاءَ رَجُلٌ ـ رَأَيْتُ رَجُلاً ـ مَرَرْتُ بِرَجُلٍ جَاءَ مُسْلِمُوْنَ – رَأَيْتُ مُسْلِمِيْنَ – مَرَرْتُ بِمُسْلِمِيْنَ Keterangan: Lafadz رجل  mengalami perubahan, dari berharokat dlommah, kemudian fathah dan terakhir kasroh. Perubahan inilah yang disebut i’rob. Lafadz مسلمين juga mengalami perubahan, dari berakhiran huruf wawu dan nun, menjadi berakhiran ya’ dan nun. Perubahan inilah yang disebut i’rob. Bila kita perhatikan dua contoh diatas, perubahan yang terjadi ada kalanya pada harokat dan adakalanya pada huruf hijaiyahnya.
Pembagian I’rob I’rob terbagi menjadi 4 bagian, yaitu: rofa’ (الرَفْعُ), nashob(النَصْبُ), jer (الجَارُ) dan jazm(الجَزْمُ)

Kalam, Kalimat dan Qaul

Ilmu Nahwu adalah ilmu yang mempelajari perubahan atau hukum akhir dari suatu kata.
Pembahasan pertama dalam ilmu Nahwu, anda akan disuguhkan pembahasan tentang KalamKalimat, dan Qaul. Perlu diketahui bahwasannya adakalanya kalimat-kalimat dalam bahasa Arab mempunyai dua keadaan, yaitu keadaan tersusun (murokab ; مركب), dan keadaan sendiri atau tidak tersusun (mufrod ; مفرد). Kalam adalah lafadz (kata) yang disusun yang memberikan faidah kepada pendengar dan disengaja oleh pembicara (mutakallim). Kalimat adalah setiap lafadz (satu lafadz) yang menunjukkan pada suatu makna. Qaul adalah setiap ucapan yang memberikan faidah atau dapat dipahami oleh lawan bicara.
Pembagian kalam/kalimat dalam bahasa Arab Dalam bahasa tata bahasa Arab dikenal tiga pembagian kalimat, yaitu Ism, Fi’il dan Hurf Ism (Kata Benda), adalah semua kata yang menunjukkan pada semua nama, baik nama orang, benda, hewan, dan bentuk pekerjaan. Fi’il (Kata Kerja), adalah semua kata yang menunjukkan pada semua pekerjaan, me…

Seri Nahwu

Seri Ushul Fiqh

Perintah dan Larangan dalam Al Qur'an (2)

Bentuk Lafadz Amr dan Nahi

Tulisan ini adalah lanjutan dari seri sebelumnya tentang memahami Perintah dan larangan dalam Al Qur'an. Lihat Perintah dan Larangan dalam Al Qur'an (1)

Berdasarkan bentuk (sighah)nya, amr dapat dibedakan menjadi dua bagian. Pertama, amr sharihah (amr yang memiliki tuntutan yang jelas), Kedua, amr ghairi Sharihah, yaitu amr yang memiliki bentuk imperatif yang tidak jelas. Amr Sharihah dapat diketahui dari dua sudut pandang: (1) semata-mata perintah dan tidak diketahui ‘illat kemaslahatannya, misalnya Qs. 2: 43; (2) dipahami maksud syari’ dan kemaslahatannya dengan cara menelitinya, misalnya Qs. 62:9: fa-s’aw ila dzikri allaihi, dimana maksudnya adalah memelihara terlaksananya shalat jum’ah dan tidak melalaikannya, bukan hanya perintah untuk bersegera mengingat Allah saja.

Sedangkan pada Amr yang memilikii bentuk imperatif yang tidak jelas (ghairi sharihah), meliputi (1) pemberitaan mengenai ketetapan hukum, misal Qs. 2:183: ya ayyuha al-ladzina amanu ku…

"MARKIPUR BERTUTUR II"

Oleh : M. Ariffurrohman

WAWASAN KEBANGSAAN
"Kembali ke Khittah Peradaban" Akankah kita berdosa, saat diam melihat rusaknya moral bangsa, satu sisi kita sudah terlanjur tinggi dalam berpendidikan. Entah kita sadar ataukah memang dibuat tak sadar oleh diri kita sendiri yang sebegitu tidak pedulinya pada mereka para generasi muda kita yang semakin jauh dari dirinya, ya, semakin jauh dari dirinya, kenapa saya bilang demikian. kalian bisa lihat perilaku mereka yang semakin tidak mencerminkan budaya leluhurnya, lihat cara berpakaian mereka meniru siapa? lihat cara bergaulmereka, bertutur mereka, sampai cara berfikir mereka, sipa yang mereka tiru? jelas bukan leluhur kita yang mereka jadikan kiblat. sebab leluhur mereka adalah bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai ke-sopan-santunan, ke-andab-asoran, ke-tawadlu'an, leluhur mereka adalah bangsa yang luhur budi pekertinya, bangsa yang bermartabat, bangsa yang besar lebih besar dari ketahanan merka dalam menerima tempaan hidup pil…

"MARKIPUR BERTUTUR I"

Oleh : M. Ariffurrohman
KEKUASAAN DAN AKHLAK TASAWUF


"Kita yang Masih dalam Keadaan Junub" Entah sudah berapa bait puisi yang aku tulis hanya demi sebuah kepuasan hati, entah sudah berapa rangkai kalimat yang aku susun hanya demi sebuah esensi kata nurani, entah sampai kapan jiwa Gibran dan jiwa Rendra akan menghuni diri ini, dan entah berapa banyak lagi untaian syair dan ayat-ayat Tuhan aku acak-acak nilai kebenaran literaturnnya hanya demi sebuah nilai kebenaran retorika dan pe-merian kata hanya sebatas jarak mata memandang segi etik dan estetiknya, yang kesemuanya itu belum tentu sanggup mewakili hakikat kebenaran secara kaffah.

Namun hal itu tetap aku lakukan.Tapi akankah dalam hal ke-khilafahan dan ke-kholifahan juga akan aku perlakukan layaknya mereka para kalimat yang tak berdosa? akan sangat sulit bagi kemampuan permainan kata dan pengolahan kataku ini untuk mengawinkan keduanya. Juga tak ada salahnya kalau hal itu aku lakukan karena aku itba’ kepada para guru tsaqofiyah…

Seri Ulumul Qur'an

Seri Tasawuf

Poligami

Qur’an secara eksplisit membolehkan poligami. Karenanya kita tidak bisa menutup mata bahwa poligami disahkan oleh Islam. Ayat populer dalam QS. An-Nisā’ 4: 3, Fānkiĥū Mā Ţāba Lakum Mina An-Nisā' Mathná Wa Thulātha Wa Rubā`akerap diterjemahkan dengan “maka kawinilah perempuan-perempuan yang kamu sukai,  dua, tiga, atau empat.” Dan seperti diketahui, biasanya para pelaku poligami membenarkan perbuatannya tersebut pada dua hal: Alquran surat al-Nisa ayat 3 tersebut yang membolehkan poligami sampai empat, dan mengikuti Sunnah Nabi. Selain itu poligami dianggap solusi terbaik untuk menyelesaikan persoalan keluarga. Misalnya poligami merupakan solusi ideal relasi suami istri bila sang suami ”tergoda.” Poligami juga dikaitkan dalam tujuan untuk perluasan dakwah Islam. Ada juga yang berargumen berpoligami itu karena untuk menghindari zina. Istilahnya, dari pada selingkuh lebih baik poligami.

Diskusi kita bukan dalam rangka menolak hukum atau ajaran Islam tentang poligami. Tetapi praktek po…

Zainul Hakim S.Kom, Kepala Madin

Wawancara

Perintah dan Larangan dalam Al Qur'an (1)

Dalam bahasa arab, bentuk amr adalah dengan menggunakan sighat if’al yang berarti kerjakan dan li-taf’al yang berarti hendaklah engkau mengerjakan. Menurut aslinya bentuk (sighat) amr adalah menunjukkan perintah.

Oleh Ahmad Farid Mubarok
*Disampaikan dalam diskusi kelas Ma’had Ali Yayasan Pondok Pesantren Wahid Hasyim Semester III. Jum’at, Tanggal 4 November 2011.




Karena Al-Qur’an dan sunnah, dimana syari’at islam termaktub didalamnya menggunakan medium bahasa arab, maka untuk untuk memahami syari’at Islam kita bisa menggalinya melalui dua pendekatan. Pertama adalah melalui pendekatan maqashid syari’ah (tujuan syara’ dalam menetapkan hukum), Kedua adalah melalui kaidah-kaidah kebahasaan. Diantara kaidah kebahasaan yang digunakan untuk menetapkan dan menerangkan hukum-hukum syari’at adalah amr dan nahi. Tulisan ini akan membahas amr dan nahi sebagai kaidah kebahasaan untuk memahami perintah dan larangan dalam Al Qur'an.

Dalam Bahasa Arab, kata larangan disebut dengan Nahi, dan kata per…

Maulana Farid Essack

Oleh Ahmad Farid Mubarok 
A. Agama dan Konflik
Hembusan konflik dan kekerasan kerap bermula dari ketidaksadaran warga akan pluralitas pemahaman, keyakinan dan pandangan hidup. Dengan bumbu doktrinasi Agama tertentu, politik kekuasaan, dan perbedaan etnis, maka lahirlah kekerasan-kekerasan yang mengatasnamakan agama, hingga kejahatan terorisme yang mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan. Meski akarnya berbeda,[1] doktrin agama mudah menjadi sumber legitimasi kekerasan.[2] Pemahaman agama berulangkali jadi mediator kekerasan dan mendorong orang beriman yang formalistis untuk memercikkan api konflik. Gagasan-gagasan imajinatif dan argumentatif dari tokoh-tokoh pluralisme tantang pola pikir keagamaan eksklusif dan pola-pola kerja sama antarumat beragama yang selama ini kita bangun hanya melahirkan kerukunan semu (pseudo-harmony). Hubungan dan kerja sama antar agama yang didasarkan atas kepentingan sosial dan paradigma inklusif maupun pluralis[3] ternyata tidak mampu memberi bekal dan basis kea…