"MARKIPUR BERTUTUR I"


Oleh : M. Ariffurrohman

KEKUASAAN DAN AKHLAK TASAWUF


"Kita yang Masih dalam Keadaan Junub"
Entah sudah berapa bait puisi yang aku tulis hanya demi sebuah kepuasan hati, entah sudah berapa rangkai kalimat yang aku susun hanya demi sebuah esensi kata nurani, entah sampai kapan jiwa Gibran dan jiwa Rendra akan menghuni diri ini, dan entah berapa banyak lagi untaian syair dan ayat-ayat Tuhan aku acak-acak nilai kebenaran literaturnnya hanya demi sebuah nilai kebenaran retorika dan pe-merian kata hanya sebatas jarak mata memandang segi etik dan estetiknya, yang kesemuanya itu belum tentu sanggup mewakili hakikat kebenaran secara kaffah.

Namun hal itu tetap aku lakukan.Tapi akankah dalam hal ke-khilafahan dan ke-kholifahan juga akan aku perlakukan layaknya mereka para kalimat yang tak berdosa? akan sangat sulit bagi kemampuan permainan kata dan pengolahan kataku ini untuk mengawinkan keduanya. Juga tak ada salahnya kalau hal itu aku lakukan karena aku itba’ kepada para guru tsaqofiyahku, tetap saja hal itu bagiku bagai gagak dengan bulu putihnya kareana saking banyaknya pertanyaan nakal atas dasar ke-mustahilan terhadap kemampuan diri dalam mengurai pelbagai masalah yang berkutat pada poros kepemimpinan dan area ke-khilafahan.

Mungkin hanya satu kunci, yang dengan kunci tersebut akan terbongkar semua rahasia ayat Tuhan, yaitu dengan kejernihan hati para mawali kita dan pemimpin-pemimpin kita. Hanya satu sifat, yang dengan sifat tersebut akan terurai semua kekusutan dan keruwetan Negeri ini, yaitu kedewasaan diri para mawali dan pemimpin-pemimpin Negeri ini dalam memperjuangkan kesejahteraan hakiki yang murni atas dasar nurani.

Lalu apakah mungkin dengan keterbatasan akal dan kemampuan bangsa kita dalam berkreasi, mampu mengurai benang kusut yang penuh keruwetan Negri ini?? Mungkinkah dengan kedangkalan cara berfikir para generasi instan Negri ini, mampu menegakkan dan meluruskan bangunan ber-rangkakan hikmah Khidir yang hampir roboh karena kemakan zaman?? Bagaimana mungkin para mawali kita yang sudah terlanjur terbuai oleh dekapan hangat singgasana mewah berhiaskan pernak-pernik dunia serta rayuan mesranya, akan mampu mem-puasakan keinginan hati untuk benar-benar berpuasa dan mentalaq segala keinginan-keinginan hati dalam memuaskan diri pribadi, tanpa sikap kedewasaan dan kemampuan diri dalam memetik hikmah ayat-ayat kauniyahNya??

Serta hanya dengan satu amalan, yang dengan amalan tersebut akan menjadikan hati para imam dan para pemimpin Negeri ini menjadi suci dan bersih kembali, hanya dengan satu amalan itu pula yang akan sanggup menyatukan kembali serpihan-serpihan nurani mereka yang sejak lama terurai hingga menyebabkan perbudakan-perbudakan manusia oleh harta dan dunia, yaitu menjinabatkan hati nurani para pemimpin bangsa ini dari ke-junubannya. Karena selama ini tak banyak dari kita yang sadar akan kondisi hati kita, hati para pemimpin kita, dan juga hati para wakil kita dalam keadaan junub yang sebenar-benarnya junub, maka untuk mensucikan besarnya hadas tersebut hanyalah dengan mengaliri seluruh kahota hati kita dengan siraman air kebesaran dzikir.



0 komentar:

Posting Komentar

 

Galeri Madin Weha

Entri Populer