Bid’ah

Ilustrasi

Pada awalnya gerakan pemurnian berdiri untuk merampingkan Islam yang sarat beban kesejarahan. Ia ingin membersihkan Islam dari beban historisnya, yaitu dengan cara mengembalikan umat Islam kepada induk ajarannya, Al-Quran dan Al-Sunnah. Seruan ini mestinya sangat positif bagi kerja perampingan dan pembersihan (purifikasi). Tapi ternyata tidaklah seindah yang dibayangkan. Di tangan sebagian umat Islam yang fanatik dan militan, implementasinya terjatuh pada tindakan kontra produktif. Di mana-mana mereka menyebarkan tuduhan bid'ah kepada umat Islam yang tidak seideologi dengan mereka. Bahkan, tidak jarang mereka mengkafirkan dan memusyrikkan umat Islam lain. Sejauh ini mereka cukup agresif mengkampanyekan pikiran-pikiran dan ideolognya. Bukan hanya memekikkan khotbah dari dalam mesjid-mesjid mewah di kota-kota besar, melainkan juga blusukan ke pedalaman dan dusun-dusun di Indonesia. Ajaran-ajarannya dicicil untuk disampaikan kepada umat Islam Indonesia.

Dalam konteks Indonesia, ada beberapa ciri cukup menonjol yang penting diketahui dari gerakan ini. Pertama, mereka mempersoalkan dasar negara Indonesia dan UUD 1945. Intinya tidak setuju Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam ini dipandu oleh sebuah pakem sekular, hasil reka cipta manusia yang relatif bernama Pancasila. Menurut mereka, Pancasila adalah ijtihad manusia dan bukan ijtihad Tuhan. Seolah lupa bahwa Pancasila mengandung nilai-nilai yang sangat Islami dan tidak tampak di dalamnya hal-hal yang bertentangan dengan Islam. Kedua, demokrasi juga ditolak dan dianggap sebagai sistem kafir. Juga dasar-dasar hak asasi manusia (HAM) yang sesungguhnya berpondasikan ajaran Islam yang kukuh, keberatan terhadap konsep kebebasan beragama (hifdz al-din), kebebasan berpikir (hifdz al-'aql), dan sebagainya. Ketiga, yang intensif digelorakan adalah semangat penyangkalan atas segala sesuatu yang berbau tradisi. Kreasi-kreasi kebudayaan lokal dipandang bid'ah, takhayul, dan khurafat yang mesti diberantas. Termasuk disini juga penolakan hasil pencapaian masyarakat modern dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologinya.


Lalu apa yang disebut dengan bid’ah?, Apa saja bagian dari tradisi yang kerap dipandang bid'ah, takhayul, dan khurafat?, Bagaimana juga status Pancasila, UUD 1945, Demokrasi, dan hak asasi manusia?, Sebenarnya apa yang dimau dengan menghakimi dengan tuduhan-tuduhan ini?, Bagaimana kita menyikapinya?.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Galeri Madin Weha

Entri Populer