Selasa, 25 Februari 2014

Oleh Nashihah El-Abif


Tulisan ini adalah salah satu dari tulisan dalam "Seri Dawuh Bapak Jalal di Suatu Sabtu Pagi". Tulisan lainnya dapat diikuti dalam kategori pakkyai.


"Pada intinya, Ihya' Ulumuddin oleh Imam Al Ghazali yang diringkas sedemikian rupa sehingga muncullah Mukhtashornya, hanya mempunyai dua poin inti. Yang pertama, menomorsatukan Allah. Yang kedua, memperlakukan orang lain seperti kita ingin diperlakukan, kalau bisa lebih baik"
KH. Jalal Suyuthi, ngaji Sabtu pagi.

Hanya dua poin inti dari kitab semasyhur dan setebal Ihya' Ulumuddin. Simpel sekali bukan?

Iya, tentu. Karena dalam soft science, pemahaman terhadap teori jauh lebih mudah daripada penerapannya di kehidupan nyata. Contoh kecil saja, kita ingin orang lain bersikap lembut dan baik pada kita tetapi kita tidak bisa bersikap lembut dan baik pada orang lain. Suatu kontradiksi yang sangat mencolok bagi mereka yang mempelajari bagaimana cara bersosial dan berkomunikasi yang baik.

Hal ini berkebalikan dengan hard science yang praktiknya justru malah jauh lebih mudah daripada memahami teori. Contohnya pembahasan atas apel yang jatuh oleh Sir Issac Newton. Menjatuhkan apel itu jauh lebih mudah daripada menghitung berapa percepatan gravitasinya.

Soft science itu apa sih? Soft science itu istilah lain bagi ilmu sosial, sisi lain dari hard science yang membahas ilmu alam.

Hal-hal sepele dalam soft science dalam kehidupan sehari-hari justru sering terabai meskipun kita sebenarnya memahami atau paling tidak tau tentang teorinya.

Menomorsatukan Allah; suatu hal yang kedengarannya mudah tetapi dalam praktiknya bisa-bisa kemalasan yang menggoda, merayu, menggelayuti kita justru lebih semangat memalaskan daripada semangat kita untuk melawan rasa malas itu. Panggilan shalat misalnya; sering dari kita -dan saya sendiri- semangat sekali untuk bilang nanti meskipun sedang berada dalam kondisi tidak sedang melakukan aktifitas apa-apa. Padahal, kalau berdoa meminta sesuatu dan tak kunjung dikabulkan, seringnya malah yang muncul suudzon (nastaghfirullaah). Padahal lagi, malaikat izroil tidak mengenal kata nanti untuk mencabut nyawa kita. Padahal lagi, kita sejatinya diciptakan hanya untuk menyembah dan menghamba kepada-Nya. Dan kita tidak pernah tau apakah ini kesempatan shalat terakhir kita atau masih ada kesempatan lagi di kemudian hari. Mengingat shalat merupakan amal pertama yang dihisab di padang mahsyar kelak.

Memperlakukan orang lain seperti kita ingin diperlakukan; teori simpel lain tentang bersosial yang praktiknya bisa sampai sulit pangkat tujuh. Misal dalam kehidupan pesantren yang fasilitasnya dibersihkan bersama dan dipakai bersama juga, seperti kamar mandi. Siapa sih yang tidak ingin menempati kamar mandi yang bersih dan bebas bau tak sedap? Tentu semuanya ingin. Tetapi di antara semua yang ingin itu, seberapa banyak yang sadar diri untuk mengembalikan kondisi kamar mandi; sedemikian rupa seperti yang pada awalnya kita inginkan?

Saya pribadi pernah tertegun dengan kertas yang ditempelkan di kamar mandi salah satu asrama teman; "Ayo, tengok ke belakang! Sudahkah kamar mandi ini pantas untuk ditempati orang setelah anda?".

Tulisan singkat, tidak muluk-muluk, tetapi sangat mengena. Merupakan salah satu cara untuk mempraktikkan sekaligus mengontrol bersama sebagian kecil dari penerapan poin kedua tadi, bukan? Sehingga tidak menjadikan teman yang mengantre kita risih. Apalagi kalau sampai tega meninggalkan sampah atau malah memperkeruh air dalam bak mandi dengan mengobok-obokkan busa sabun di dalamnya.

Yuk, mari, bersama-sama mengutamakan yang memang sejatinya utama bagi kita. Juga bersama-sama memperlakukan orang lain seperti kita ingin diperlakukan. Dan saling mengingatkan dalam kedua hal ini (namanya juga manusia, bukan malaikat, jadi -khususnya saya- masih perlu diingatkan). Meski sulit, tetapi tak ada salahnya mencoba, kan? Karena tentu yang pernah berusaha atau setidaknya mencoba itu lebih baik daripada yang mengabaikan sama sekali.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Galeri Madin Weha

Entri Populer