Ruwatan

Ilustrasi

Oleh Ahmad Farid Mubarok

Apa yang dilakukan Paguyuban Masyarakat Tradisi (Pamatri) Yogyakarta beberapa waktu yang lalu rasanya sungguh mulia. Saya terharu. Saya mendengar pemberitaannya lewat berbagai media. Mereka yang datang ke rumah Amien Rais di Condongcatur, Yogyakarta dengan seragam khas Jawa, membawa kembang setaman, membawa dua ekor ayam: hitam dan putih. Ya, mereka melaksanakan ruwatan.

Bagi kita yang mengikuti berita-berita politik pada pemilihan legislatif dan pemilihan presiden kemarin pasti tahu posisi Amien Rais. Tokoh nasional yang menurut opini yang dibangun media, tidak bersikap kenegarawanan. Kalau dalam tokoh pewayangan diumpamakan sebagai Sengkuni.

Dalam acara ruwatan itu Mbah Sukir berdoa dalam bahasa Jawa yang kurang-lebih artinya: "Semoga Bapak Amien Rais lepas dari sandikolo dan kembali bersih. Semoga bangsa ini terhindar dari bencana dan segala hal yang tidak baik. Semoga rakyat Indonesia bisa sejahtera." Mendoakan seseorang kembali bersih dan lepas dari sandikolo tentu baik. Sebagai manusia biasa tentu saja siapapun berpotensi "kotor", baik dalam berucap maupun berperilaku. Diruwat menjadi "kembali bersih" bukankah sesuatu yang baik?

Bagi saya, ruwatan  adalah ritual yang sakral. Kalau mencari dalilnya dari agama ya kita akan sulit mencari pembenaran. Istilah sandikolo sendiri tidak akan kita temukan di kitab kuning yang kita kaji di pesantren. Sandikolo aslinya dari bahasa Jawa Kuno: Sandyakala. Adalah waktu pergantian antara siang dan malam yang sering diganggu setan, karena itu wajib memanjatkan doa supaya selamat. Segalanya terkait ruwatan memang berbau tradisi. Bagusnya kita bukan generasi yang suka memperkarakan hal-hal berbau tradisi seperti ini untuk secara verbal diberi label bid'ah, musyrik, sesat dan sebagainya apalagi sampai tindakan menghakimi para penjaga tradisi.

Kekotoran yang ada dalam diri kita bisa dibersihkan dengan jalan ruwatan. Tentu tidak perlu ayam hitam dan ayam putih. Sederhana saja, kalau salah satu diantara kita ada perselisihan misalnya, cukup duduk bersama dalam sebuah dialog yang tulus, siapa tahu ruwatan bisa mempertemukan dua pihak yang selama ini tidak pernah ngobrol.

Madin, mungkin juga termasuk yang perlu diruwat. Semoga dengan hadirnya media terbuka Lentera Ma'had (yang terlahir sebagai sebagai media keilmuan - sekaligus memainkan fungsi media komunikasi antar kelas antar asrama), Madin yang selama ini dikesankan dingin ternyata lain. Jangan-jangan memang dari dulu kehangatan-keramahan dan sikap terbuka ini ditutupi "setan sandikolo".



0 komentar:

Posting Komentar

 

Galeri Madin Weha

Entri Populer